08 November 2009

siang dalam kesendirian


dangkal akan pengenalanku tentang dirimu,
meski sauh telah jauh menempuh
waktu bukanlah suatu ukuran akan arti pemahaman
bahkan ketika peluh telah bertaut dalam irama satu
sejalan dengan angan yang kupikirkan itu adalah suatu kebenaran
namun nyata dalam sentuhan itu bukan

ada garis pemisah yang membedakan zona itu nyata
dekat bukan berarti mampu terjangkau
jika dekat itu adalah sebuah dunia maya
tak kan tersentuh meski tangan terulur kencang

nyata yang kau tampilkan belum tentu nyata yang ada
banyak tersimpan yang tak pernah ku tahu
dan aku memahamimu dalam ketidak tahuanku

sejauh yang telah kulalui
biarkan aku tahu sejauh dalam ketidak tahuanku
itu lebih baik

( nia : 8 Nov 2009 : 13,00 )

10 Oktober 2009

jeng..............

Jeng...

Aku ingin mengajakmu, menegok kembali akan kehidupan kita..
Kehidupan yg telah kita tata selama kurang lebih 1 windu ini, banyak hal yg telah kita alami seirama waktu menggulung...

Seperti yg pernah aku ikrarkan janjiku di hadapan banyak orang, yang telah menjadi saksi akan cinta kasihku kepadamu

" aku akan tetap mendampingimu baik suka maupun duka, baik sengsara atau mulia, dan mengasihimu sampai ajal memisahkan kita"

dan itu merupakan janji suci yg pernah terucap dan tak mungkin kutarik lagi dari mulutmu. Aku mengasihimu, apapun keadaan mu aku bisa menerima dan memahami

ah...maafkan aku kadang sering mendesah dan mengeluh, jika sering kudapatkan hari-harimu sering mengecewakan aku, yg kadang tidak bisa kuterima sebagai seorang manusia bahkan sebagai seorang laki2 dan kepala rumah tangga

terkadang harga diri ini harus aku kukorbankan demi permintaan-permintaan yg tak masuk akal darimu. aku memang salah, itu bukanlah suatu didikan yg baik buatmu, namun akupun tak sanggup jika senyummu menjadi pudar karena aku tak bisa memenuhi permintaan mu

Jeng...

Aku tak mau kehilangan senyumanmu..senyuman yg membuat hari-hari ku menjadi indah, senyuman yang mebuat hatiku sebagi laki-laki menjadi luluh dan bersimpuh..senyuman yg selalu mengajakku untuk mengucapkam kaya..."iya.."
akan kugantikan dengan apakah ijka aku kehilangan akan senyum mu?

Rasanya banyak yg aku perbuat terhadapmu,dan seharusnya tak perlu aku ungkap itu, karena itu sudah menjadi bagian hidupku, namun itu semua tidak aku hitung seperti aku menghitungnya dalam laporan Laba Rugi. Aku ikhlas melakukan ini semua demi kau yg kukasihi...

Jeng...

Dalam hal ini bolehkan aku meminta? Akan semua yg telah aku perbuat terhadapamu? Aku mohon..berikan sedikit hormatmu kepadaku ..dari seorang istri kepada suami...

Aku tidak ingin kau salah pengertian akan permintaan ku ini, namun aku tetap menjaga engkau, smentara mulut-mulut di luar banyak mencerca akan keberadaan mu. Aku tetap melindungi kau..juga melindungi anak kita...

Aku telah mengganggapnya itu sebagai anak kita..dan kau pun tak sadar, bahwa aku telah tau akan semua ini...

Seperti telah aku memilikimu, maka anak yg pernah ada di dalam rahimmu pun aku akui sebagai anak ku..

Jeng...

Tanpa sepengetahuanmu..aku telah memeriksakan diri, bahwa sesungguhnya aku tak mampu memberimu seorang keturunan, jadi yg jadi pertanyaanku...siapakah yg telah menyemai benih itu di dalam rahimmu? Dan selama ini kau telah bersandiwara seolah-olah anak ini adalah dari benihku?

Jeng...aku mandul..dan itu sangat menyakitkan hati..tambah sakit karena ada anak yg bukan dari benihku...dan sekarang hidup diantara kehidupan kita, dan kau diam-diam menyimpan rahasia itu

Apa yg akan kau katakan jika kau mengetahui kebenaran ini? Selama ini aku diam, aku mengalah..aku nrima.....bukan karena aku kalah..Kalaupun sebagai laki-laki dengan kuasaku aku menceraikan mu pun, aku bisa lakukan saat ini. Kurang apakah aku? Pengacara mana yg tak takluk kepadaku? Ya...karena memang aku ber duit....

Namun itu semua tak kulakukan, aku mengasihimu..aku mengampunimu..biarlah anak itu juga menjadi anakku, dia tidak tau apa-apa, dia hanyalah korban dari nafsu ibunya yg serakah...biarlah anak itu juga menerima kasih sayangku, seperti yg pernah aku berikan kepadamu..dan biarlah dia hidup layak, dan tidak dianggap sebagai anak Jadah....

Jeng....

sekali waktu, pertemukan aku dengan bapak dari anakmu.....

sebuah kata diwaktu malam

aku sebuah kata...diantara berjuta-juta kalimat


yang bertebaran didalam dunia...baik maya ataupun realita.


aku sebuah kata, yang sewaktu-waktu terpakai, kali waktu terbuang..


aku sebuah kata yang kadang mampu menghidupkan ataupun mematikan


kata-kata yang bertebaran tak berunjung..


melayang-layang mencari perhentian..


terkadang kudapat tempa-tempat yang tak kuingin..


namun aku hanyalah sebuah kata yang akan tetap memberi sebuah arti dalam sebuah kalimat...


kata-kata yang tak sendiri...

sepi ku

sepi merayap di dalam diri..


membalut erat dalam sesak tak terelak..


melewati setiap ruas-ruas ruang dalam jiwa..


merambat seiring setiap aliran darah yang menyelinap di setiap pembuluh darah..


sepi ini begitu biru...


menggigil tak tertahankan..


siapakah penghisap sepi yang membatu di dalam diri..?


dan aku tersungkur di depan waktu yang telah menjadi prasasti


akan sebuah kenangan-kenangan yang tak teraih


sepiku menghanyutkanku dalam kebekuan yang kelam


**nia (010909)**

pencarian

aku mencari.....


di setiap sudut-sudut kota


yang nampak megah oleh lampu-lampu malam






aku mencari.....

di setiap keramaian yang berdentang

riuh rendah oleh gelak dan tawa

terbias dalam wajah-wajah yang merona



aku mencari..

ke dalam hal-hal yang tak tesentuh

entah itu hitam, entah itu putih



aku mencari.....

kulalui desiran angin malam

yang mengoyangkan ilalang di pinggir jalan

untuk telusuri

dimanakah dekap itu ada..?




** nia 010909 **

jangan tolak aku jeng......

Kurasakan ujung jarimu menyentuh daguku dan kau dongakkan kepalaku mengarah kepadamu. Kuperhatikan dalam bening dua bola matamu mengajakku berbicara, mencari suatu kepastian akan sebuah jawaban yang kau tunggu..

" Sekali lagi ku mohon..menikahlah dengan ku..apapun alasanmu aku sudah tidak mempedulikannya, karena sudah sekian kali kau ungkapkan alasan yang sama, dan aku sudah tau, aku paham..aku mengerti...please..."

Bola mata itu...ah..menikam deras kedalam hatiku, memasuki ruang-ruang sunyi yang selama ini terkunci, yang tak pernah kubukakan bagi siapapun, dan kini, dia begitu leluasa untuk menelusuri bahkan menelanjangi rasaku yang diam- diam mulai membeku, namun sorot mata ini telah menghancurkan kebekuan yang membatu..

" Aku....tak bisa.." jawabku lirih....tak terasa kristal-kristal bening bergulir perlahan dari ujung-ujung mata membentuk derai yang berurutan, andai itu permata, kuuntai satu persatu menjadi sebuah kalung..

Kulihat tatap kecewa dari matamu...dan akupun sangsi, apakah pemahamanmu tentang aku sama dengan keberadaanku yang sesungguhnya

" Seberapa jauh kau ketahui tentang aku ?"

aku mencoba memulai membuka benteng-benteng yang mulai membisu, yang seolah berjarak ribuan kilometer, padahal hanya di depan mata.

" Aku tahu tentang kamu....., bahwa kamu hanyalah anak pungut dari sebuah panti asuhan, dan itulah menjadi alasan utama orang tuaku menolak kamu, selain itu, secara status sosial, orang tua angkatmu bukanlah orang terpandang separti orang tuaku, juga tingkat pendidikanmu, termasuk juga pekerjaanmu saat ini yang hanya menjadi SPG di sebuah toko buku...dan kau sering sakit-sakitan, semantara itu kau menjadi tulang punggung bagi keluarga orang tua angkatmu...aku tahu..aku sadar..namun sudah menjadi pilihanku, bahwa itu semua tidak akan mempengaruhi keputusanku untuk memperistrimu, meskipun kedua orang tuakupun tidak menyetujui, meskipun keluarga besar ku yang terhitung masih keturunan ningrat menentang habis-habisan.....dan selalu menyuarakan tentang betapa jauhnya kehidupan kita.....dan....."

Dan rasa itu tiba-tiba menyeruak hebat..sesak..aku tak sanggup mendengarkan lagi apa yang menjadi kata-kata selanjutnya, hanya isak yang sekarang ini kudengar di telinguku dan itu adalah isakku sendiri

" Mas....aku hargai semua pengorbananmu terhadapaku...namun ada satu hal yang mungkin belum kau ketahui tentang hal ini, dan inilah yang terberat yang ingin aku katakan.."

Kami berdua terdiam..kulihat bola matanya mencari-cari sesuatu di wajahku, seolah ingin mengatakan akau sudah tau semua tentang dirimu..apa lagi..?

Aku menghela nafas panjang...

" Mas...sampai kapanpun, aku tak bsa mendampingimu sebagai istri, meskipun aku ingin sekali menjadi istrimu..dan membina sebuah rumah tangga bersama mu, satu hal yang belum kau ketahui tentang diriku, bahkan orangtua angkatkupun tidak mengetahuinya, aku adalah penderita kanker ganas "

Kulihat wajahmu tak menunjukkkan keterkejutan, mungkin kau mengira aku berpura-pura akan khabar ini

" Benar mas...kanker itu telah menggerogoti mulai dari indung telurku, rahimku, servik dan sekarang telah menyebar ke atas ke payudara dan ke paru-paru. Semua organ kewanitaanku telah musnah diambil di meja operasi, aku tak punya rahim, indung telur, bahkan payudara...dan sekarang aku menungu kematian..dokter mengatakan hidupku tinggal setengah tahun lagi...apalagi yang bisa kau harapakan dari aku sebagai seorang istri ?aku tak bisa memberimu keturunan, aku tidak bisa memuaskanmu di ranjang dan aku hanya akan menghabiskan uangmu untuk pengobatan.yang akhirnya aku hanya mengantri kematian.....tidak !!!...aku tidak bisa melakukan ini semua...lepaskan aku..carilah wanita lain yang lebih memadai...."

tiba-tiaba semua menjadi gelap aku pening..entah aku sedih..atau lega..aku tidak tau..aku hanya melolong dalam kesedihan yang panjang....aku terjatuh dalam pilu yang menyesak kan

Kurasakan tubuhku terangkat oleh sepasang tangan yang kuat, dan dibaringkannya aku di atas kasur, sebuah kecupan lembut dikening kurasakan..

" Jeng....tetaplah menjadi istriku...engkau masih mempunyai banyak hal yang menjadkan kau layak menjadi istriku, aku masih memiliki matamu...bibirmu..hidungmu...terlebih aku memiliki hatimu yang akan selalu aku cintai... besok kita urus pernikahan kita, aku sudah tidak bisa menundanya lagi...

Perlahan kurasakan kristal-kristal itu berubah menjadi pancaran air yang mengalir deras....diantara syukur dan takutku kurasakan pelukannya memberiku kehangatan

" Iya...mas..."



** nia 020909 **

melawan sepi

Bergulat melawan sepi...

yang membasuh diri..

mengalir, tak berujung dari waktu ke waktu

di dalam irama jentik-jentik jemari menari resah..

dan nafas gundah yang tercekat..

aku membalut sepi dengan kidung..




( nia 030909 )

aku merindukan mu

aku merindukanmu ..

di pucuk-pucuk malam yang hendak menghangus..

di balik lembar-lembar asa yang kian menyusut...

yang terhentak oleh desir air yang mengalir..



aku merindukankanmu ...

tidak hanya sesaat, ketika gundah ini datang

tidak hanya untuk teman kala sepi menghandang

yang kadang hilang dan pergi tanpa suatu arah..


biru disepanjang biru

( 1 )

biruku diujung malam..
semakin kelu dan patah
bersimbah peluh-peluh sepi
yang membasahi diri
semakin biru..


( 2 )

tertikam tak berdaya..
diatas rasa yang menghimpit
terhunus resah membelah
jiwa didekap masa yang hilang
hentakkan jerit tentang luka
aku terkapar dalam merah yang membiru


( 3 )

rasa yang tercabik oleh semu
yang berlabuh sesaat
menoreh guratan perih
menikam pedih..
kubiarkan lelehnya membasahi hati
sebagai selimut sepi..


( 4 )

aku merindu..
diujung senja yang temaram
diantara bayang waktu yang hendak bergulir
disadarku akan dirimu..
sungguh aku merindu
akan peluh yang ucapkan hasrat cinta



nia160909

SAHARA

Tertatih dalam derak langkah yang tak kunjung berujung, dalam sengat yang meleleh, melebur jiwa. Sementara terik tak kunjung reda untuk menyinar, membawa kegersangan dalam langkah yang panjang. Sahara demikan hebat mengikat, hingga tiada tetes yang mampu sembuhkan dahaga. Peluh dan air mata sebagai pengganti tetes air air yang tak mungkin di dapat dalam sahara

Lihatlah, panas dan gersang, yang tak mungkin surut dalam hujan sehari, mungkin seluruh lautan yang tertumpah baru mampu memberikan arti kesejukan. Apa yang bisa kau dapatkan dalam perjalananmu di sahara?

Tak akan ada yang mampu bertahan, dalam hisapan sengatnya. Sementara aku tetap tertatih berjalan, untuk mengakhiri tepi yang tak berujung. Pesona memerah dan membakar, pemandangan sehari-hari di setiap langkah yang terseret

Adakah berlebih jika berharap terhadang lembah yang berumput hijau dengan mata airnya yang tenang? Atau tidak layakkah aku menikmati arti sebuah teduh di dalam hidup ?

Kembali aku disadarkan, aku masih berjalan di dalam sahara..yang tak tau dimana kan berujung..Tuhan jika aku berkahir dlam hidup, biarlah karena Engkau yang memanggil, bukan karena terbakarku di sahara